Budaya dan wilayah

Sape dan Tradisi Musik Kalimantan

Satu batang kayu utuh diukir dan dilubangi selama berminggu-minggu sebelum akhirnya menjadi sape—alat musik petik yang suaranya mengiringi tarian dan cerita di kalangan masyarakat Kenyah dan Kayan di pedalaman Kalimantan Timur dan Utara.

01Sape secara tradisional diukir dari satu batang kayu utuh.
02Versi tradisionalnya umumnya bersenar dua sebelum berkembang jadi tiga atau empat.
03Awalnya mengiringi tarian dan cerita lisan, kini juga tampil di panggung musik.
Sape secara tradisional diukir dari satu batang kayu utuh.

Diukir dari satu batang kayu

Badan dan leher sape umumnya dibuat dari satu batang kayu utuh yang dilubangi bagian dalamnya, bukan dirakit dari beberapa potongan seperti kebanyakan alat musik petik lain. Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran karena mengandalkan pahatan tangan.

Dari dua senar ke variasi modern

Sape tradisional biasanya memiliki dua senar yang dipetik untuk menghasilkan melodi berulang sebagai pengiring, sementara sejumlah pemain masa kini mengembangkan versi dengan tiga hingga empat senar untuk memperluas jangkauan nada.

Pengiring tarian dan cerita lisan

Permainan sape secara tradisional menyertai tarian seperti datun julud pada masyarakat Kenyah, serta menemani penuturan cerita lisan pada malam hari di rumah panjang. Sejumlah pemain sape kemudian membawa alat musik ini ke panggung yang lebih luas, memperkenalkannya di luar konteks upacara aslinya.