Satu atap, banyak keluarga
Rumah panjang umumnya dibangun di atas tiang kayu tinggi menyusuri tepi sungai, dengan area beranda memanjang yang menjadi ruang bersama (disebut ruai pada rumah panjang komunitas Iban), sementara setiap keluarga inti memiliki bilik tertutup sendiri di baliknya.
Bentuknya tidak seragam
Panjang, tinggi tiang, jumlah pintu, dan tata ruang rumah panjang berbeda antar kelompok—rumah panjang komunitas Iban di Kalimantan Barat tidak identik dengan rumah betang komunitas Ngaju di Kalimantan Tengah, meski sama-sama mengusung konsep hunian komunal.
Fungsi sosial yang tetap hidup
Beranda bersama pada rumah panjang masih dipakai untuk musyawarah, upacara adat, dan menerima tamu, menjadikannya bukan sekadar bangunan tetapi juga ruang pengambilan keputusan komunitas. Sejumlah rumah panjang tradisional kini juga dibuka terbatas untuk kunjungan wisata dengan aturan masing-masing komunitas.