Budaya dan wilayah

Nilai Kebersamaan di Kalimantan

Bekerja bergiliran membantu ladang tetangga, duduk bermusyawarah sebelum mengambil keputusan bersama, atau berbagi ruang di bawah satu atap rumah panjang—kebersamaan di Kalimantan tampil dalam banyak bentuk yang berbeda-beda, bukan satu tradisi tunggal yang bisa disamaratakan.

01Praktik gotong royong di ladang punya istilah dan bentuk berbeda antar komunitas.
02Musyawarah adat menekankan pemulihan hubungan, bukan sekadar menang-kalah.
03Nilai kebersamaan juga hidup di masyarakat non-Dayak seperti Melayu dan Banjar.
Praktik gotong royong di ladang punya istilah dan bentuk berbeda antar komunitas.

Bekerja bergiliran di ladang

Sejumlah komunitas Dayak mengenal praktik kerja bergotong royong secara bergiliran untuk membuka atau menggarap ladang, dengan istilah lokal yang berbeda-beda pada tiap kelompok. Praktik ini meringankan beban kerja fisik dan sekaligus mempererat hubungan antarkeluarga.

Musyawarah sebelum keputusan

Penyelesaian masalah atau perselisihan di banyak komunitas Kalimantan biasa dilakukan lewat musyawarah adat, melibatkan tetua atau pemangku adat sebagai penengah. Proses ini menekankan pemulihan hubungan sosial, bukan semata mencari pihak yang menang atau kalah.

Kebersamaan bukan cerita satu kelompok saja

Nilai gotong royong dan musyawarah ini juga hidup di kalangan masyarakat Melayu, Banjar, dan komunitas pesisir lain di Kalimantan, dengan bentuk dan istilah masing-masing. Menyamaratakan seluruh nilai kebersamaan sebagai "budaya Dayak" semata mengabaikan keragaman masyarakat yang sebenarnya ada di pulau ini.